Alpukat dan Pisang
Seorang sahabat dekat mengundangku ke rumahnya untuk mengambil buah alpukat hasil panenan pohon alpukat di depan rumahnya. Untunglah “undangan” ini ada sekarang, setelah aku “tergila-gila” jus alpukat.
Kok ”untunglah”?
Mungkin blum ada 2 taunan aku baru merasakan lezatnya alpukat. Sebelumnya aku selalu menghindari apapun yang ada alpukatnya.
Hal ini berawal ketika aku masih bersekolah di SMA. Seorang teman kosku menawariku buah alpukat. Itu baru pertama kalinya aku ditawari dan melihat langsung buah alpukat. Karena blum yakin dengan rasanya aku cuma mencicipi sedikit. Kelihatannya siy enak, seperti yang diekspresikan temenku ketika melahapnya…. Tapi ternyata, buah itu rasanya pahit, nggak enak sama sekali!!
Sejak itu aku jadi nggak suka buah alpukat. Seberapa banyak orang menawariku & berpromosi bahwa alpukat enak sekali aku nggak mau sama sekali. Alpukat dalam bentuk apapun slalu kuhindari. Dan itu berlangsung bertahun-tahun, melewati masa SMA dan kuliah, sampe bekerja, dari satu kota ke kota yang laen, dengan perjumpaan dengan teman teman yang mayoritas menyukai buah alpukat. Tetapi tetap saja, setiap kali melihat menu minuman & ingin memesan jus, aku memesan jus selain jus alpukat. Bahkan avocado float yang jadi favorit temen-temenku, aku nggak mau mencobanya. Mending pilih float yang laen deh….
Tetapi suatu hari, aku mau makan di kafe Rindang, tempat makan di deket kantorku sekarang. Aku ingin sekali memesan jus apel tetapi tidak ada. Jus yang lain seperti wortel, tomat atau mangga udah bosen rasanya. Ibu di kafe tersebut menawariku jus alpukat. Dengan bodohnya aku bertanya, apakah jus alpukat itu enak. Tentu saja ibu itu bilang enak, walaupun kemudian cepet-cepet meralat dengan mengatakan, tergantung selera setiap orang. Sekali ini aku menyerah ingin mencoba. Akhirnya jus alpukat berwarna hijau dengan susu kental manis coklat di atasnya sudah ada di depanku, kuaduk-aduk, melupakan rasa ”pahit” alpukat dari masa lalu dan membayangkan manisnya jus di depanku. Kucicipi sedikit demi sedikit, hmmm ternyata enak juga, sampe satu gelas habis, rasanya blum puas. Ternyata enak sekali…!!!
Mulai saat itu, aku jadi ”kecanduan” jus alpukat… Setiap kali liat menu minuman, aku mencari jus alpukat, bahkan nggak peduli kalo harganya sedikit di atas jus yang lainnya. Seolah-olah aku ingin membayar bertaun-taun tanpa tau lezatnya jus alpukat.
Aku jadi berpikir, mungkin dalam hidupku aku sering bertindak seperti ketika pertama merasakan pahitnya alpukat, maka setelah itu apapun yang berlabel alpukat aku selalu menghindarinya. Ketika merasakan pengalaman yang tidak enak, pengalaman pahit, pengalaman disakiti, pengalaman gagal, ada rasa enggan bahkan mungkin menghindar untuk menghadapi kembali masalah atau pengalaman yang sama. Perlu waktu dan keberanian untuk mencoba lagi, melupakan yang telah berlalu dan membangun harapan bahwa di depan selalu ada hal yang lebih baik, lebih manis dan lebih indah. Mungkin pengalaman pertama dengan alpukat karna aku blum tau gimana mengolah alpukat supaya lebih enak, mungkin aku tidak memperhatikan bahwa temen yang menawari buah alpukat mengatakan akan lebih enak kalo di-jus dan ditambah susu coklat, dsb, dsb. Tapi aku hanya berfokus pada rasa pahitnya…
Padahal pengalaman pertama yang menyakitkan akan suatu hal belum tentu akan menyakitkan juga jika harus dihadapi lagi untuk yang kedua, ketiga dan kesekian kali. Karena kondisi pasti sudah berubah seiring berubahnya waktu, mungkin aku sudah lebih tau mengatasi dan ”mengolah” yang tidak enak, lebih bisa memahami mengapa suatu peristiwa terjadi, mengapa orang lain bersikap seperti yang mereka lakukan, sehingga berusaha mengambil bagian ”manisnya”, menikmatinya dan menghadapi pahitnya sebagai bagian hidup yang justru membuatku semakin tough, semakin dewasa dan semakin berani menghadapi tantangan hidup.
Tentang buah pisang, kebetulan aku juga lagi ”panen” pisang. Jadi aku dan temenku bertukar buah hasil panenan
Mungkin ini yang kelima kalinya sejak aku tinggal di rumah baru 2 taon lalu. Pohon-pohon pisang itu tumbuh sendiri di samping rumah, bahkan sejak rumah itu blum selesai dibangun. Bapakku pernah berusaha menebang dan membuangnya. Tapi tetep tumbuh lagi, so akhirnya kita biarin, sampai menghasilkan buah. Sedikit berfilosofi Bapak bilang, buah pisang itu baik sekali, setelah bisa menghasilkan buah, mereka baru mau mati, dan meninggalkan tunas-tunas baru untuk berbuah lagi pada saatnya. Seharusnya memang begitulah hidup kita, menghasilkan buah-buah kehidupan yang baik buat orang lain dan pada saatnya kita harus pergi, kita telah meninggalkan tunas-tunas baru yang juga akan menghasilkan buah-buah yang berguna untuk kehidupan orang lain. Kata-kata beliau sangat mengena di hatiku sehingga kalo ada saat-saat aku tidak tau mau kemana arah hidupku, aku teringat pohon pisang, bahwa selagi Tuhan memberi hidup, adalah suatu kesempatan bagiku untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi kehidupan sesama, sekecil dan se-sepele apapun itu, karena untuk itulah aku diciptakan oleh-Nya
GBU
NB: thanks to Mb Enjang+Dewi untuk buah alpukat se-tas penuh (berat juga ternyata…
) & Mb Widi (arsitektur UKDW angkatan 1991) dimanakah dirimu sekarang???